Rush Money

Posted on 24-Feb-2022
...

Tagar #RushMoney pada Desember 2021 masif digunakan di Twitter dan masuk sebagai Trending Topic Indonesia. Beberapa pengguna media sosial berlambang burung biru itu membuat cuitan yang seolah mengajak masyarakat untuk melakukan Rush Money, atau istilah di luar negeri adalah Bank Run. Kok bisa mereka melakukan ajakan tersebut? Bisa jadi ada hukum sebab akibat di sini. Tak akan ada asap tanpa api. Berbagai kasus nasabah yang uang tabungannya berkurang bahkan raib secara mendadak, ditengarai sebagai alasan munculnya ajakan Rush Money. Kasus terbaru yakni pada Oktober tahun lalu. Seorang nasabah Bank Mandiri di Kudus, Jawa tengah menggugat bank pelat merah sebab dia kehilangan saldo tabungannya senilai Rp5,8 miliar. Hingga kini kasusnya masih bergulir di persidangan. Bukan sekali ini nasabah Bank Mandiri harus mengalami raibnya simpanan mereka. Sebelumnya pada 2019 dan 2020 banyak nasabah yang kecewa sebab tabungannya berkurang, walau ada juga yang bertambah lantaran Mandiri tengah mengadakan maintenance pada sistemnya. Atas kasus tersebut, sempat berhembus isu yang mengajak nasabah Bank Mandiri melakukan Rush Money namun ini segera diantisipasi oleh berbagai pihak mulai dari para petinggi Mandiri yang menjamin uang nasabah akan kembali utuh, sampai Menteri Keuangan Sri Mulyani dan pakar-pakar ekonomi ikut angkat bicara soal dampak buruk Rush Money bila benar-benar terjadi. Bersyukur akhirnya isu tersebut mereda. Segitu paniknya, bukankah wajar seorang nasabah mengambil uang tabungan miliknya sendiri? Bukan hanya wajar, tapi boleh sekali, kalau hanya satu dua orang yang mengambil dana mereka di bank dengan skala besar, barangkali masih bisa dipenuhi. Tapi apa jadinya bila semua orang melakukan hal yang sama? Analoginya, sebuah toko beras terlengkap dan terpercaya di suatu kota mendadak kebanjiran order. Satu kota membeli beras di tempat tersebut dalam jumlah yang berbeda-beda. Toko pun jelas tak mungkin memenuhi seluruh permintaan penduduk kota. First come first served, mereka yang datang duluan beruntung bisa dapat jumlah beras sesuai keinginan. Yang terakhir datang sudah dipastikan boncos. Gambaran itu yang akan terjadi jika Rush Money betul-betul jadi nyata. Dari berbagai sumber, istilah Rush Money sendiri hanya ada di Indonesia. Di luar negeri, dikenal dengan nama Bank Run. Kaum milenial banyak yang mempertanyakan, kenapa Rush Money bisa bikin negara luluh lantak dan bukan cuma instansi keuangan seperti bank. Analogi beras tadi hanya mendekati sepersekian efek negatif dari Rush Money alias belum ada apa-apanya. Yang dirugikan bukan hanya nasabah, bahkan mereka yang tidak menabung di bank pun akan merasakan dampaknya. Lah, kok bisa? Indonesia pernah mengalami Rush Money pada 1998 di mana situasi politik saat itu sedang sangat panas. Kekacauan, huru hara, penjarahan, ketidakpastian kondisi Indonesia membuat banyak orang yang memiliki simpanan di bank berfikir untuk menguras tabungan mereka sebagai bentuk preventif daripada menanggung hal-hal yang tak diinginkan. Sebenarnya, peristiwa Mei 1998 adalah titik puncak dari krisis moneter 1997 yang melanda Asia dimana nilai tukar mata uang negara-negara Asia jatuh terhadap dolar Amerika Serikat, termasuk Rupiah. Lemahnya Rupiah membuat Bank Sentral memperketat kebijakan likuiditas, terutama atas perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam dolar, dan ini dia akar masalah Rush Money di masa itu. Masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap perbankan. Banyak bank akhirnya runtuh dan mengalami likuidasi oleh pemerintah. Masalah selesai? Masih jauh! Sebab Rush Money, likuiditas besar mengalami hambatan serius diikuti dengan likuiditas perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Daritadi bicara likuiditas, tapi apakah sudah paham? Likuiditas yang dinukil dari bi.go.id simpelnya adalah kemampuan individu maupun perusahaan melunasi hutang jangka pendek dengan aset lancar yang dimiliki. Ketika Anda mengambil kredit rumah dan kendaraan, Anda bisa membayar utang tersebut tepat waktu berdasarkan jumlah yang sudah disepakati dan dibayarkan dengan gaji bulanan yang lancar Anda terima. Ini berarti likuiditas Anda baik. Lebih gampangnya lagi, likuiditas adalah uang tunai. Uang bisa ‘mencair’ dan berganti dengan berbagai wujud. Akan lain cerita jika Anda memiliki aset yang tidak mudah dicairkan seperti tanah, rumah, kendaraan, dan lain-lain. Contoh kasus, Anda ingin jeruk sekilo dengan harga Rp25 ribu tetapi Anda tak punya uang, namun Anda punya baju seharga yang sama. Apakah pedagang mau jika jeruknya ditukar dengan baju Anda? Belum tentu. Cara lainnya yakni, Anda jual baju untuk membeli jeruk. Kembali ke kondisi perekonomian saat krisis moneter 1997-1998. Seperti itulah Rush Money yang terjadi kala itu. Bank tidak memiliki banyak uang untuk mengembalikan dana nasabah. Bank bukan celengan babi, menabung Rp5 ribu keluar juga Rp5 ribu. Bank merupakan perusahaan yang tentu saja memiliki kegiatan usaha. Kegiatan tersebut meliputi menampung dan mengumpulkan dana dari masyarakat lewat tabungan, giro, deposito berjangka, dan produk sejenisnya. Bank juga berkegiatan memberikan kredit kepada pelaku usaha dan masih banyak lagi kegiatan usaha bank yang bisa dilihat di situs ojk.go.id. Dengan kata lain, uang nasabah tidak semua ready dan utuh, melainkan ada yang ‘diputar’ agar bank sebagai badan usaha bisa tetap hidup. Dan, BAM! Rush Money terjadi, mengakibatkan bank harus menguras seluruh dana tunainya. Bila belum cukup – dan sudah pasti tak cukup – bank akan menagih debitur-debitur dan ini juga bukan perkara mudah. Belum lagi jika bank meminjam kepada bank lain sebagai pemberi pinjaman. Masih banyak efek domino dari Rush Money dan yang dirugikan adalah seluruh rakyat Indonesia sebab di ujung, resesi ekonomi sudah menanti. Demikian ngeri dampak Rush Money, apalagi di zaman serba digital ini, dimana hoaks gampang sekali menyulut massa. Berita bohong tentang rapuhnya ekonomi Indonesia atau lemahnya sistem perbankan amat sangat mungkin jadi ‘bensin’ yang membakar masyarakat untuk melakukan penarikan uang secara besar-besaran. Karenanya, jadilah warganet yang cerdas. Warganet yang tidak mudah terprovokasi kabar bohong, apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Masih banyak cara lain mengatasi persoalan ekonomi ketimbang dikit-dikit termakan isu Rush Money.

Tiga Gap Digital Trading di Indonesia dan Roadmap G20

Jakarta - Kemajuan teknologi informasi yang berkembang sedemikian pesat, telah... Read More

Siap-siap! Robot Trading dan Aset Kripto Bakal Diatur UU

AKURATNEWS - Penataan regulasi terkait robot trading dan aset kripto di Indonesia dalam rangka... Read More

Robot trading, aplikasi yang bantu investor bertransaksi

Robot trading, aplikasi yang ditujukan untuk membantu investor bertransaksi valas, komoditas,... Read More